Dental

Bruxism, Kenali Penyebab dan Cara Menanganinya

Menggeretakkan gigi saat tidur mungkin terdengar sepele. Padahal, kebiasaan ini dapat mengikis permukaan gigi sedikit demi sedikit tanpa disadari hingga akhirnya memicu nyeri rahang, gigi sensitif, bahkan kerusakan gigi yang cukup serius.
Image 01 / 05.

Bruxism adalah kondisi ketika seseorang menggeretakkan, mengatupkan, atau menggesekkan gigi secara tidak sadar. Kebiasaan ini dapat terjadi saat terjaga maupun ketika tidur.

Kondisi tersebut dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Pada kasus yang berat, bruxism dapat menyebabkan gigi aus, kelelahan otot rahang, nyeri, hingga sakit kepala.

Penyebab dan Gejala Bruxism

Penyebab bruxism tidak selalu berasal dari satu faktor. Umumnya, kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, kebiasaan sehari-hari, dan kondisi kesehatan tertentu.

Stres dan kecemasan menjadi pemicu yang paling sering dikaitkan dengan bruxism, terutama pada malam hari. Saat tubuh mengalami tekanan emosional, otot rahang dapat menegang tanpa disadari sehingga memicu kebiasaan menggertakkan gigi.

Selain itu, gangguan tidur, konsumsi alkohol, kafein secara berlebihan, kebiasaan merokok, serta efek samping obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya bruxism.

Bruxism sering kali tidak disadari karena banyak terjadi saat tidur. Akibatnya, keluhan baru muncul ketika gigi atau rahang mulai mengalami gangguan.

Gejala yang dapat muncul antara lain gigi aus atau retak, gigi menjadi lebih sensitif, nyeri atau kaku pada rahang, serta sakit kepala setelah bangun tidur. Sebagian orang juga mengalami kualitas tidur yang menurun akibat kondisi ini.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, bruxism dapat merusak permukaan gigi dan memengaruhi fungsi rahang. Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman saat mengunyah maupun berbicara.

Cara Penanganan

Penanganan bruxism disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Tujuannya adalah mengurangi kebiasaan menggertakkan gigi sekaligus mencegah kerusakan yang lebih berat.

Apabila dipicu oleh stres atau kecemasan, dokter biasanya akan menyarankan pengelolaan stres dan perbaikan kualitas tidur. Mengurangi konsumsi alkohol, kafein, serta menghentikan kebiasaan merokok juga dapat membantu menurunkan risiko bruxism.

Pada kondisi tertentu, dokter gigi dapat merekomendasikan penggunaan mouth guard saat tidur untuk melindungi gigi dari gesekan. Jika sudah terjadi kerusakan pada gigi, perawatan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kapan Harus ke Dokter Gigi?

Bruxism sering berkembang tanpa disadari. Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter gigi sebaiknya dilakukan jika mulai muncul gigi sensitif, nyeri rahang, atau sakit kepala yang berulang setelah bangun tidur.

Pemeriksaan juga dianjurkan apabila terdengar suara gigi bergemeretak saat tidur. Deteksi sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan gigi dan rahang menjadi lebih parah sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.