Plastic Surgery

RSCM Lakukan Operasi Robotik dari Jarak 1.000 Kilometer

Di ruang operasi RSCM Kencana, lengan robotik bergerak mengikuti kendali dokter dari lokasi berbeda. Dokternya berada di Bali, sementara pasien berada lebih dari 1.000 kilometer jauhnya di Jakarta.
Image 01 / 05.

Perkembangan teknologi kedokteran membuat operasi dengan bantuan robotik semakin banyak digunakan untuk membantu dokter melakukan prosedur dengan teknik minimal invasif. Teknologi tersebut kini juga memungkinkan dokter mengendalikan perangkat bedah dari lokasi yang berbeda dengan pasien.

Hal ini dilakukan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) melalui prosedur tele-robotic surgery di bidang ginekologi. Operasi dilakukan di Kamar Operasi RSCM Kencana, Jakarta, dan ditayangkan secara langsung dalam APAGE 26th Annual Meeting dan IGES 13th Annual Meeting di Jimbaran Convention Center, Bali.

Prosedur tele-robotic surgery ini menjadi bagian dari pengembangan layanan bedah robotik RSCM. Sebelumnya, pada 2024, Departemen Urologi RSCM telah melakukan tele-robotic surgery untuk pertama kalinya sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih lanjut ke bidang ginekologi.

Dalam prosedur kali ini, dokter mengendalikan sistem robotik dari Bali, sementara pasien berada di RSCM Kencana, Jakarta. Jarak kedua lokasi mencapai lebih dari 1.000 kilometer.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSCM, Dr. dr. Bobi Prabowo, Sp.Em, Subsp.TK (K), M.Biomed, FICEP, mengatakan pengembangan ini menjadi bagian dari transformasi layanan bedah RSCM.

“Pengembangan bedah robotik di bidang ginekologi menjadi langkah penting bagi RSCM dalam memperluas pilihan layanan bedah berteknologi tinggi bagi masyarakat. Inovasi ini juga menjadi bagian dari perjalanan transformasi layanan bedah RSCM dalam menjawab perkembangan teknologi kedokteran,” ujar Dr. dr. Bobi Prabowo.

Dari Laparoskopi ke Operasi Robotik

Menurut dr. Helbert Situmorang, Sp.OG, Subsp.F.E.R perkembangan robotic surgery tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari perkembangan minimally invasive surgery. Jika sebelumnya operasi membutuhkan sayatan yang lebih besar, teknik minimal invasif memungkinkan dokter melakukan prosedur melalui sayatan yang jauh lebih kecil.

Salah satu teknologi yang berperan adalah kamera. Dalam laparoskopi, kamera membantu dokter melihat organ di dalam tubuh dengan pembesaran yang lebih jelas. Perkembangan berikutnya menghadirkan visualisasi tiga dimensi yang membantu dokter memahami kedalaman dan posisi jaringan.

Pada sistem bedah robotik, terdapat tiga komponen utama yang saling terhubung. Pertama, surgeon console, yaitu konsol tempat dokter mengendalikan sistem dan melihat area operasi melalui visualisasi tiga dimensi. Kedua, patient cart yang berada di sisi pasien dan dilengkapi lengan-lengan robot untuk menggerakkan instrumen bedah. Ketiga, vision cart yang berfungsi mendukung sistem visualisasi dan menghubungkan berbagai perangkat yang digunakan selama prosedur.

Dokter kemudian mengendalikan sistem dari surgeon console. Melalui konsol tersebut, dokter dapat melihat area operasi secara tiga dimensi dengan pembesaran dan menggerakkan instrumen yang berada pada lengan robot di sisi pasien. Gerakan tangan dokter diterjemahkan oleh sistem menjadi gerakan instrumen yang lebih presisi, sementara dokter tetap menjadi pihak yang mengendalikan setiap tindakan selama operasi.

“Di konsol robot, saya dapat melihat organ di dalam tubuh seolah-olah saya sedang bekerja langsung di depan area operasi,” jelasnya. 

Tidak Semua Operasi Membutuhkan Robot

Meski menawarkan sejumlah kemampuan tambahan, robotik bukan berarti harus digunakan untuk setiap prosedur. Pemilihan teknik tetap disesuaikan dengan kondisi pasien dan kompleksitas operasi.

“Tidak semua operasi harus menggunakan robot. Untuk kasus-kasus tertentu, laparoskopi konvensional sudah cukup dan dapat memberikan hasil yang baik. Robot lebih bermanfaat pada prosedur yang kompleks, ketika dokter membutuhkan visualisasi tiga dimensi, perangkat bedah yang lebih fleksibel, atau kontrol gerakan yang lebih presisi,” ujar dr. Helbert ketika menjelaskan penggunaan robot dalam operasi ginekologi.

Dalam bidang ginekologi, teknologi ini dapat membantu pada kondisi tertentu, termasuk beberapa kasus endometriosis berat, miom kompleks, prolaps organ panggul, hingga kasus tertentu yang membutuhkan tindakan lebih rumit.

Begitu pula pada beberapa kasus keganasan. Namun, tidak semua kanker ginekologi otomatis lebih baik ditangani dengan robot. Pada beberapa kondisi, bukti mengenai manfaatnya masih terus berkembang, sehingga hasil operasi tetap sangat bergantung pada kondisi pasien dan pengalaman operator.

Pertimbangan tersebut juga berkaitan dengan konsep value in surgery. Hasil operasi tidak hanya dilihat dari keberhasilan tindakan, tetapi juga mencakup keamanan, pengalaman pasien, proses pemulihan, tingkat invasivitas, biaya, hingga kondisi dokter selama melakukan prosedur.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.