Memahami Rasa Overwhelmed di Tengah Kesibukan

Pernah merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai? Daftar pekerjaan belum selesai, notifikasi terus berdatangan, sementara berita di media sosial seolah tidak pernah berhenti. Hal-hal yang biasanya bisa dihadapi dengan santai pun mendadak terasa melelahkan.
Perasaan overwhelmed seperti ini bisa muncul ketika tekanan terasa terlalu besar dan sulit dikendalikan. Dilansir dari Real Simple, salah satu konsep yang dapat membantu memahami kondisi tersebut adalah window of tolerance, yaitu rentang ketika seseorang masih mampu mengelola emosi dan menghadapi tekanan dengan cukup baik.
Mengenal Window of Tolerance
Konsep yang diperkenalkan oleh dr. Dan Siegel, profesor klinis psikiatri di UCLA School of Medicine, ini menggambarkan kondisi ketika seseorang masih bisa berpikir jernih, mengatur emosi, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurut Golee Abrishami, PhD, wakil presiden bidang layanan klinis di Octave Mental Health, setiap orang memiliki rentang toleransi yang berbeda. Situasi yang terasa biasa bagi seseorang bisa menjadi sumber tekanan bagi orang lain.
Ketika tekanan melampaui rentang tersebut, ada yang menjadi gelisah, cemas, dan sulit menenangkan pikiran. Sebagian lainnya justru kehilangan fokus, sulit memulai pekerjaan, atau merasa ingin menarik diri. Ada pula yang berusaha mengendalikan pekerjaan, jadwal, hingga kondisi rumah untuk mendapatkan kembali rasa kendali.
Terlalu Lama Mengikuti Berita Bisa Bikin Lelah
Salah satu hal yang bisa memperburuk perasaan overwhelmed adalah kebiasaan doomscrolling, yaitu terus menggulir berita atau media sosial yang memicu kekhawatiran.
Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan banyak waktu mengikuti berbagai masalah, mulai dari kejadian di sekitar hingga peristiwa di belahan dunia lain. Informasi terus masuk, tetapi kita tidak selalu punya waktu untuk mencerna emosi yang muncul.
Abrishami menjelaskan bahwa paparan informasi yang mengganggu dapat memengaruhi kesehatan mental, bahkan ketika dampaknya tidak langsung terasa. Karena itu, membatasi waktu membaca berita dan menggunakan media sosial bisa membantu mengurangi beban pikiran.
Cara Menghadapi Rasa Overwhelmed
Saat mulai merasa kewalahan, coba perhatikan kondisi diri sendiri. Kekhawatiran yang terus muncul, napas terasa pendek, atau rasa takut menghadapi aktivitas sehari-hari bisa menjadi sinyal bahwa tekanan mulai sulit dikelola. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, jangan abaikan.
Menjaga pola tidur, makan secara teratur, dan memberi waktu untuk beristirahat dapat membantu tubuh menghadapi tekanan. Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus, dan waktu luang tidak harus selalu diisi dengan kegiatan produktif.
Jika media sosial membuat pikiran semakin penuh, cobalah menjauh dari layar untuk sementara. Waktu tersebut bisa digunakan untuk berjalan kaki, menikmati suasana luar ruangan, berolahraga, atau berbincang dengan orang terdekat. Aktivitas seperti ini dapat mendukung kesehatan mental dan membantu mengelola stres.
Perubahan hormon selama siklus menstruasi, perimenopause, dan menopause juga dapat memengaruhi respons seseorang terhadap stres. Karena itu, kondisi emosional bisa berubah dari waktu ke waktu dan tidak selalu berkaitan dengan situasi di sekitar.
Merasa overwhelmed bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi semuanya. Terkadang, kita hanya perlu mengurangi sejenak hal-hal yang memenuhi pikiran, beristirahat, dan kembali menjalani aktivitas satu per satu.



