Science vs Soul

Memahami Nervous System Regulation dan Kaitannya dengan Stres

Sulit tidur, mudah lelah, pikiran terus terasa sibuk, hingga kulit lebih sensitif dari biasanya bisa berkaitan dengan stres yang berkepanjangan. Karena itu, kemampuan tubuh untuk kembali tenang setelah menghadapi tekanan mulai mendapat perhatian dalam dunia wellness.
Image 01 / 05.

Belakangan ini, nervous system regulation menjadi salah satu topik yang banyak dibicarakan dalam dunia kesehatan dan wellness. Dilansir dari NewBeauty, ketertarikan terhadap topik ini meningkat seiring semakin banyak orang menyadari bahwa stres tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat berkaitan dengan tidur, energi, dan kondisi fisik.

Istilah ini merujuk pada kemampuan sistem saraf dalam merespons tekanan dan kembali ke kondisi yang lebih tenang. Saat menghadapi ancaman atau situasi yang menegangkan, tubuh mengaktifkan respons fight-or-flight. Sebaliknya, ketika situasi terasa aman, tubuh dapat beralih ke kondisi istirahat dan pemulihan.

Masalahnya, tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang kesulitan beristirahat dan memulihkan diri. Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah nervous system dysregulation, meski istilah tersebut bukan diagnosis medis tunggal untuk berbagai keluhan yang dialami seseorang.

Berhubungan dengan Kesehatan Kulit dan Rambut

Menurut Kally Papantoniou, MD, dermatolog di Long Island, New York, stres kronis dapat memperburuk peradangan dan melemahkan fungsi pelindung kulit. Dampaknya bisa terlihat melalui jerawat yang lebih sering kambuh, kulit yang semakin sensitif, atau kondisi seperti eksim dan rosacea yang memburuk.

Stres juga dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut. Trikolog William Gaunitz menjelaskan bahwa kerontokan terkait stres, yang dikenal sebagai telogen effluvium, dapat muncul sekitar tiga bulan setelah pemicu awal. Kerontokan biasanya terjadi secara menyebar di kulit kepala, bukan hanya pada satu area.

Meski begitu, stres bukan satu-satunya penyebab masalah kulit maupun rambut. Faktor hormon, kondisi kesehatan, obat-obatan, dan kebiasaan sehari-hari juga dapat berperan. Karena itu, keluhan yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda gangguan regulasi sistem saraf.

Cara Tubuh Mengelola Stres

Salah satu cara yang dibahas adalah latihan pernapasan perlahan menggunakan diafragma. Menurut dr. Sam Faramarzi, dokter naturopati, pernapasan lambat dapat membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang berperan dalam proses istirahat dan pemulihan tubuh.

Meditasi dan latihan mindfulness juga dapat membantu seseorang lebih menyadari respons terhadap stres. Dengan berlatih secara konsisten, seseorang dapat belajar mengenali ketegangan dan memberikan jeda sebelum bereaksi terhadap situasi yang menekan.

Selain itu, tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, dan pola makan seimbang menjadi fondasi penting untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan. Kebiasaan tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Memulai dengan rutinitas sederhana yang realistis justru dapat membantu menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Paparan dingin dan penggunaan perangkat wearable untuk memantau variabilitas detak jantung atau heart rate variability (HRV) juga bisa membantu mengenali respons tubuh terhadap stres. Meski begitu, paparan suhu ekstrem dapat membebani tubuh, sementara data dari perangkat tersebut tidak bisa memastikan apakah seseorang mengalami gangguan sistem saraf.

Di tengah kesibukan, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah menghadapi tekanan. Stres sendiri merupakan respons alami yang membantu kita menghadapi situasi tertentu. Namun, jika mulai mengganggu tidur, aktivitas, atau kesehatan sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.