El Nino Datang, Kulit Butuh Perlindungan Ekstra

Belakangan ini, cuaca panas terasa semakin menyengat. Udara yang gerah, tubuh lebih mudah berkeringat, hingga kulit yang terasa lebih lengket bisa menjadi bagian dari keseharian. Kondisi seperti ini tidak hanya membuat aktivitas di luar ruangan terasa kurang nyaman, tetapi juga membuat kulit menghadapi paparan panas, keringat, dan sinar ultraviolet (UV) yang lebih intens.
Salah satu fenomena iklim yang menjadi perhatian tahun ini adalah El Nino. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat, sehingga dapat memengaruhi angin, curah hujan, dan suhu di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
El Nino yang berkembang pada 2026 diperkirakan cukup kuat dan berpotensi menyebabkan suhu lebih tinggi serta cuaca lebih kering. Di Indonesia, kondisi ini dapat memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Namun, tidak semua cuaca panas disebabkan oleh El Nino karena cuaca juga dipengaruhi faktor lain.
Saat UV Jadi Ancaman Utama
Ketika cuaca panas memaksa kita untuk lebih sering beraktivitas di luar ruangan, maka perlindungan kulit dari sinar UV menjadi semakin penting. Sinar UVA dan UVB dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, mulai dari kulit terbakar dan perubahan warna hingga tanda-tanda penuaan akibat paparan matahari dalam jangka panjang.
Karena itu, sunscreen sebaiknya tidak hanya digunakan pada wajah. Oleskan juga pada leher, telinga, tangan, lengan, kaki, dan bagian tubuh lain yang terpapar sinar matahari.
Dilansir dari The Guardian, dr. Tanya Bleiker, presiden British Association of Dermatologists merekomendasikan sunscreen dengan minimal SPF 30 dan perlindungan UVA yang baik. Saat banyak berkeringat atau beraktivitas di luar ruangan, sunscreen juga perlu diaplikasikan kembali secara berkala, terutama setelah berenang atau berolahraga.
Perlindungan juga tidak berhenti pada sunscreen. Berteduh saat matahari sedang terik, mengenakan pakaian yang menutupi kulit, menggunakan topi, dan memakai kacamata hitam dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari secara langsung.
Sesuaikan Skincare Saat Cuaca Panas
Suhu tinggi dan keringat dapat membuat kulit terasa lebih berminyak, mudah mengalami penyumbatan pori, atau justru terasa kering dan sensitif. Karena itu, rutinitas skincare tidak harus ditambah dengan banyak produk. Sebaliknya, beberapa produk mungkin perlu dibuat lebih sederhana.
Saat cuaca panas dan lembap, pelembap dengan tekstur gel atau formula yang lebih ringan dapat terasa lebih nyaman dibandingkan krim yang sangat tebal. Dr. Melanie Palm, dermatolog yang diwawancarai The Independent, menyarankan penggunaan produk dengan formula lebih ringan jika kulit mulai terasa lebih berminyak atau mudah berjerawat ketika suhu meningkat.
Dalam kondisi cuaca panas, skin barrier dapat dijaga dengan menggunakan pembersih yang lembut dan pelembap yang mengandung bahan seperti ceramide, glycerin, squalane, atau niacinamide. Hindari juga eksfoliasi berlebihan dan penggunaan air yang terlalu panas karena dapat membuat kulit lebih kering dan mudah iritasi.
Lindungi Kulit Wajah dan Tubuh
Keringat, minyak, debu, dan sunscreen yang menumpuk sepanjang hari sebaiknya dibersihkan sebelum tidur. Gunakan pembersih yang lembut dan hindari mencuci wajah terlalu sering atau terlalu keras agar kulit tidak kering dan mudah iritasi. Setelahnya, jangan lupa gunakan pelembap untuk menjaga kelembapan kulit.
Selain wajah, kulit tubuh juga perlu dilindungi dari sinar UV, terutama pada area yang terbuka seperti leher, tangan, lengan, dan kaki. Oleskan sunscreen sebelum beraktivitas di luar ruangan, lalu aplikasikan kembali setelah banyak berkeringat, berenang, atau melakukan kegiatan yang membuat sunscreen mudah terhapus.
Di tengah kondisi cuaca yang semakin ekstrem, merawat kulit bukan hanya soal menjaga penampilan. Memberikan perlindungan dari sinar UV dan menjaga skin barrier merupakan bagian dari cara menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.



