Aesthetic

Kolagen yang Menjadi Fokus Baru Estetika

Collagen stimulator semakin mendapat perhatian seiring tren estetika yang bergerak menuju hasil natural. Peluncuran Julaine di Indonesia turut memperkenalkan pendekatan yang bekerja dengan merangsang pembentukan kolagen secara bertahap.
Image 01 / 05.

Wajah yang terlihat segar tanpa mengubah bentuk asli kini menjadi salah satu tren estetika. Hasil yang natural, tanpa perubahan terlalu kentara, semakin diminati. Fokus perawatan pun mulai bergeser dari koreksi instan menuju kualitas kulit.

Kolagen punya peran besar dalam perubahan tersebut. Protein ini menjadi salah satu penopang kulit, tetapi produksinya terus berkurang seiring bertambahnya usia. Ketika jumlahnya menurun, kulit perlahan kehilangan kekencangan dan elastisitas. Collagen stimulator hadir untuk merangsang tubuh membentuk kembali kolagennya sendiri.

Perubahan inilah yang turut melatarbelakangi hadirnya Julaine di Indonesia. Dibawa oleh Nordberg Medical, perusahaan bioteknologi asal Swedia, collagen stimulator ini resmi diperkenalkan pada Minggu, 23 Agustus 2026, di The Langham Jakarta. dr. Latisha Lubianca, M.Biomed (AAM) dan dr. Casey Tjahaja, Dipl. AAAM turut menjelaskan cara kerja, pemilihan material, hingga pentingnya keamanan dalam penggunaan collagen stimulator.

Menurut dr. Latisha, tren perawatan estetika memang mulai berubah. Jika sebelumnya perubahan yang langsung terlihat menjadi tujuan, kini semakin banyak orang mencari hasil yang berkembang perlahan.

“Zaman dulu treatment estetik lebih ke hasil yang kelihatan banget, hasil yang instan. Tapi zaman sekarang sudah mulai shifting ke natural, gradual recovery. Maunya tissue regeneration,” jelasnya.

Dari Filler hingga Collagen Stimulator

Meski sama-sama dilakukan melalui injeksi, filler dan collagen stimulator memiliki fungsi yang berbeda. Filler digunakan untuk menambah atau mengembalikan volume pada area tertentu. Sementara collagen stimulator bekerja dengan memberikan rangsangan agar tubuh memproduksi kolagen.

“Yang perlu diingat di sini, yang kita suntikkan itu bukan kolagen, tetapi partikel yang akan men-trigger tubuh kita sendiri untuk membentuk kolagen,” ujar dr. Latisha.

Karena mengandalkan proses tersebut, hasilnya membutuhkan waktu. Menurut dr. Latisha, respons tubuh mulai terjadi setelah injeksi, kemudian pembentukan kolagen berkembang dalam beberapa bulan berikutnya. Ia mengibaratkannya seperti membentuk otot melalui olahraga. Perubahan tidak terjadi dalam satu malam, melainkan melalui proses yang berlangsung perlahan.

Julaine menggunakan poly-L-lactic acid atau PLLA dengan teknologi LASYNPRO™. Dalam sesi tersebut, partikelnya dijelaskan memiliki bentuk bulat, halus, dan ukuran yang seragam. Materialnya juga bersifat biocompatible serta biodegradable, sehingga dapat diterima jaringan dan terurai secara alami di dalam tubuh.

Karakter material bukan sekadar persoalan teknis. dr. Latisha menjelaskan bahwa collagen stimulator tidak memiliki penawar seperti hyaluronic acid filler. Jika diperlukan, HA filler dapat dilarutkan dengan enzim tertentu. Hal yang sama tidak berlaku pada collagen stimulator. Karena itu, pemilihan material dan teknik injeksi perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.

Ada empat hal yang menurut dr. Latisha perlu diperhatikan ketika memilih collagen stimulator: efektivitas dan daya tahan hasil, profil keamanan, rekam jejak ilmiah, serta kualitas biomaterial.

Ia mengibaratkan biomaterial seperti material untuk membangun rumah. Kualitas bahan sejak awal akan menentukan apa yang terjadi kemudian. Prinsip serupa berlaku pada material yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh.

Bentuk partikel juga menjadi salah satu perhatian. Dalam pemaparannya, dr. Latisha menjelaskan bahwa partikel yang halus, bulat, dan seragam ditujukan untuk menghasilkan respons inflamasi yang lebih minimal dan proses regenerasi yang lebih terkontrol.

Menjaga Sebelum Mengoreksi

Pembahasan mengenai kolagen tidak berhenti pada bagaimana menstimulasinya. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting, kapan seseorang membutuhkannya?

Lebih lanjut, dr. Casey kemudian membawa pembahasan ini ke konteks penuaan yang lebih luas. Menurutnya, ada dua hal berbeda yang terjadi pada wajah seiring usia, yaitu perubahan struktur dan penurunan kualitas kulit. Keduanya tidak bisa diselesaikan dengan tindakan yang sama.

Ia mencontohkan facelift. Prosedur tersebut bukan tindakan preventif yang dilakukan sekadar untuk menghindari penuaan, melainkan tindakan yang dilakukan ketika sudah terdapat indikasi struktural. Sementara kualitas kulit dapat dirawat melalui pendekatan lain, termasuk biostimulation.

Karena itu, dr. Casey melihat perawatan sebagai rangkaian yang berkelanjutan, yaitu untuk menjaga kualitas jaringan, melakukan regenerasi ketika diperlukan, mengoreksi jika suatu hari terdapat indikasi, kemudian tetap melakukan perawatan karena proses penuaan terus berjalan.

Namun, menjaga kolagen juga bukan berarti semakin banyak stimulasi semakin baik. “Too much collagen stimulation, you'll go into fibrosis,” tegas dr. Casey. 

Julaine telah memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sementara teknologi PLLA-LASYNPRO™ disebut telah digunakan di lebih dari 35 negara.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.