Science vs Soul

Dampak Menekan Emosi bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Menahan emosi sesekali bukan hal yang salah, terutama ketika situasi belum memungkinkan untuk bereaksi. Namun, jika menjadi kebiasaan, perasaan yang ditekan tidak selalu hilang begitu saja. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berperilaku, bahkan merespons secara fisik.
Image 01 / 05.

Kadang kita memilih menyimpan apa yang sedang dirasakan. Menahan marah saat berada di tengah pekerjaan, menyembunyikan kesedihan agar tetap terlihat baik-baik saja, atau mengabaikan kekecewaan karena merasa belum punya waktu untuk menghadapinya. Dalam situasi tertentu, memberi jeda memang bisa membantu. Namun, ada perbedaan antara menunda respons dan terus mengabaikan emosi.

Dilansir dari Real Simple, Kinley Springs, pekerja sosial klinis dan terapis, menjelaskan bahwa menekan emosi berarti mendorong atau memblokir perasaan karena dianggap terlalu tidak nyaman untuk dirasakan. Sementara itu, regulasi emosi berarti tetap menyadari apa yang sedang dirasakan, lalu memilih bagaimana dan kapan akan meresponsnya.

Tubuh Tetap Merespons

Meski tidak ditunjukkan, emosi yang ditekan bukan berarti berhenti dirasakan oleh tubuh. Penelitian eksperimental yang dikutip Real Simple menunjukkan bahwa orang yang diminta menahan ekspresi emosinya memang dapat terlihat lebih tenang dari luar, tetapi tubuh tetap menunjukkan respons fisiologis.

Dalam keseharian, respons tersebut bisa muncul dalam bentuk yang lebih samar, seperti mudah tersinggung, sulit tidur, tubuh terasa tegang, sakit kepala, gangguan pencernaan, atau kelelahan. Meski demikian, keluhan fisik tidak selalu berkaitan dengan emosi yang dipendam dan tetap perlu diperiksa secara medis jika terus berlanjut.

Kebiasaan mengabaikan perasaan juga dapat membuat seseorang semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kekecewaan, misalnya, bisa muncul sebagai amarah. Sementara kesedihan mungkin justru terasa seperti kelelahan atau keinginan untuk menjauh dari orang lain.

Menurut Amy Mosset, konselor kesehatan mental yang dikutip Real Simple, menunda reaksi berarti memilih kapan akan merespons. Sebaliknya, menekan emosi berarti tidak memberi diri sendiri ruang untuk benar-benar merasakan perasaan tersebut.

Memberi Ruang untuk Merasakan

Memproses emosi bukan berarti harus langsung meluapkannya. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mengenali dan memberi nama pada perasaan yang muncul. Alih-alih hanya mengatakan 'saya sedang stres', coba perhatikan apakah yang sebenarnya dirasakan adalah kecewa, cemas, marah, malu, atau merasa tidak dihargai.

Setelah mengenalinya, beri waktu bagi tubuh untuk menjadi lebih tenang sebelum mengambil keputusan. Berjalan kaki, berolahraga, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau mengambil waktu untuk diri sendiri dapat menjadi cara sederhana untuk membantu menurunkan intensitas emosi.

Emosi tidak selalu harus langsung diluapkan. Rasa marah, misalnya, tidak berarti kita harus berteriak. Begitu juga saat sedih, kita tidak harus langsung mencari solusi. Perasaan tersebut bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang kita butuhkan atau pikirkan.

Jika emosi terasa terlalu berat, berlangsung lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau psikiater. Memahami apa yang dirasakan dapat membantu kita menentukan cara yang lebih baik untuk menghadapinya.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.