Event Diary

Tiga Dekade UNGU dan Lagu-lagu yang Tumbuh Bersama Waktu

Ada lagu yang hanya terlintas sesaat, ada pula yang terus menemani berbagai fase kehidupan. Melalui konser Waktu Yang Dinanti – Final Chapter, UNGU mengajak para penggemarnya kembali menyusuri kenangan yang telah terbangun selama 30 tahun perjalanan musik mereka.
Image 01 / 05.

Bagi sebagian orang, mendengarkan lagu lama bisa membawa kembali ingatan tentang masa-masa tertentu dalam hidup. Ada cerita cinta, perpisahan, persahabatan, hingga pengalaman sederhana yang tanpa disadari melekat pada sebuah melodi. Hal serupa terasa dalam perjalanan musik UNGU, grup band yang selama tiga dekade telah menjadi bagian dari keseharian banyak pendengar Indonesia.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, perjalanan tersebut dirayakan melalui konser Waktu Yang Dinanti – Final Chapter di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Ribuan penggemar yang dikenal sebagai Cliquers hadir memenuhi arena untuk menyaksikan Pasha, Enda, Oncy, Makki, dan Rowman kembali membawakan lagu-lagu yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun.

Konser yang dipromotori TipTip.id ini menghadirkan 30 lagu sebagai penanda 30 tahun perjalanan UNGU. Seluruh tiket yang terjual habis menunjukkan bahwa karya-karya mereka masih memiliki tempat tersendiri di tengah perubahan selera musik dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lagu Lama dan Nostalgia

Sepanjang pertunjukan, UNGU membawakan deretan lagu dari berbagai fase perjalanan karier mereka. Cinta Dalam Hati, Tercipta Untukku, Kekasih Gelapku, hingga Demi Waktu menjadi bagian dari repertoar yang menghidupkan kembali nuansa musik era 2000-an.

Bagi penggemar yang telah mengikuti UNGU sejak awal, lagu-lagu tersebut tentu memiliki cerita masing-masing. Namun, bagi pendengar yang mengenalnya melalui generasi berikutnya, konser ini juga menjadi kesempatan untuk menikmati karya-karya yang tetap dikenal hingga sekarang.

Suasana semakin terasa akrab ketika penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan. Di antara ribuan suara yang memenuhi arena, hubungan antara musisi dan pendengarnya terlihat melalui lirik yang masih diingat, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Pilihan 30 lagu malam itu tidak hanya menjadi rangkuman perjalanan karier UNGU. Setiap lagu seolah mewakili periode yang berbeda, memperlihatkan bagaimana musik dapat bertahan karena memiliki hubungan personal dengan orang-orang yang mendengarkannya.

Pertemuan Musisi dari Generasi Berbeda

Perayaan ini juga menghadirkan sejumlah kolaborasi yang memberi warna berbeda pada lagu-lagu UNGU. Andien tampil membawakan Saat Bahagia, sementara Rossa hadir melalui Hati Yang Kau Sakiti.

Lesti Kejora turut bergabung dalam penampilan Bismillah Cinta dan Udang di Balik Batu. Kehadiran Kiesha Alvaro dan Zara Leola melalui lagu Laguku menambah sisi menarik dari konser tersebut, mempertemukan generasi yang berbeda dalam satu panggung.

Masing-masing penampilan membawa karakter musikal tersendiri tanpa menghilangkan identitas lagu yang telah dikenal pendengar. Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana karya-karya lama dapat terus menemukan ruang melalui interpretasi dan suara yang berbeda.

Menjelang akhir pertunjukan, UNGU membawakan Waktu Yang Dinanti, sebelum akhirnya menutup konser melalui sesi encore dengan Bayang Semu. Lagu yang menjadi salah satu bagian awal perjalanan mereka itu terasa tepat untuk mengakhiri malam perayaan tiga dekade.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.