Saat Seni Pertunjukan Asia Tak Lagi Mengenal Batas Negara

Dalam beberapa tahun terakhir, seni pertunjukan di Asia menunjukkan wajah yang semakin beragam. Bukan hanya dari bentuk pertunjukannya, tetapi juga dari isu yang diangkat. Kisah tentang keluarga, identitas, kecerdasan artifisial, perpindahan manusia, hingga ritual kematian kini hadir berdampingan dalam satu panggung, memperlihatkan bagaimana seniman Asia membaca perubahan zaman melalui bahasa seni.
Perkembangan tersebut juga mendorong semakin banyak kolaborasi lintas negara. Seniman dari berbagai latar belakang tidak lagi hanya menampilkan karya dari negaranya masing-masing, tetapi saling bertukar perspektif dan menciptakan dialog baru melalui pertunjukan.
Semangat itulah yang menjadi benang merah dalam Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026 yang tahun ini mengusung tema asiaria. Festival dua tahunan ini menghadirkan karya-karya dari seniman Asia dan diaspora Asia, mulai dari tari, teater, musik, hingga pertunjukan multimedia.
Direktur Festival SIPFest 2026, Ening Nurjanah, mengatakan bahwa tema asiaria lahir dari keinginan untuk merayakan karya-karya seniman Asia sekaligus membuka ruang perjumpaan yang lebih luas. "Kami ingin merayakan karya-karya seniman Asia dan diaspora Asia sekaligus menghadirkan dialog lintas budaya," ujarnya.
Kolaborasi Lintas Negara dalam Satu Panggung
Semangat tersebut tercermin dari deretan seniman yang terlibat. Nama-nama seperti Melati Suryodarmo, Ho Rui An, Wang Chong, Monica Lim, Mindy Meng Wang, Rukman Rosadi, hingga kelompok butoh legendaris Jepang, Sankai Juku, hadir bersama sejumlah seniman Indonesia dalam satu rangkaian program yang memperlihatkan beragam pendekatan artistik.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Orfeus, garapan Melati Suryodarmo yang berangkat dari puisi Goenawan Mohamad dan menghadirkan pembacaan baru atas mitologi Yunani melalui bahasa tubuh kontemporer. Sementara itu, Ho Rui An membawakan Figures of History and the Grounds of Intelligence, pertunjukan berbentuk kuliah performatif yang mengulas hubungan antara sejarah, teknologi, dan kecerdasan artifisial.
Kolaborasi lintas negara juga hadir melalui pementasan Nadirah. Naskah karya Alfian Sa'at dari Singapura ini disutradarai Iedil Dzuhrie Alaudin dari Malaysia dan untuk pertama kalinya diperankan oleh aktor Indonesia. Mengangkat kisah seorang perempuan muda Muslim yang bergulat dengan persoalan iman, cinta, keluarga, dan identitas, lakon ini menawarkan tema yang dekat dengan realitas masyarakat Asia saat ini.
Menghubungkan Beragam Perspektif
Dari ranah musik, penonton akan menemukan pendekatan yang beragam. Kelompok musik KUNTARI mengeksplorasi bunyi-bunyian yang berpadu dengan ritme Nusantara, sementara Monica Lim dan Mindy Meng Wang menghadirkan Opera for the Dead, pertunjukan yang memadukan guzheng, vokal, musik elektronik, dan animasi tiga dimensi untuk mengangkat tema kehilangan serta ritual kematian. Wang Chong juga akan membawakan Made in China 2.0, refleksi tentang praktik berkesenian di tengah perubahan sosial dan budaya global, sedangkan Rukman Rosadi mengajak penonton menelusuri hubungan antara teater, film, dan kehidupan melalui sebuah pentas ceramah.
Festival ini tidak hanya menjadi panggung bagi para seniman untuk menampilkan karya, tetapi juga ruang bertemunya beragam perspektif dan budaya. Melalui pertunjukan yang hadir, penonton diajak melihat bahwa berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di kawasan Asia sering kali memiliki kesamaan, dan seni dapat menjadi medium untuk membangun dialog tentang pengalaman tersebut.



