Mengenal Urolithin A dan Potensinya dalam Memperlambat Penuaan Kulit

Kerutan, berkurangnya elastisitas, dan perubahan tekstur menjadi beberapa tanda penuaan kulit yang paling mudah dikenali. Tak heran jika berbagai inovasi skincare terus dikembangkan untuk mengatasinya. Namun, penelitian terbaru mulai mengalihkan perhatian pada sesuatu yang tidak terlihat di permukaan, yakni bagaimana sel kulit mempertahankan fungsinya seiring bertambahnya usia.
Salah satu senyawa yang menarik perhatian adalah Urolithin A. Selama ini, Urolithin A lebih banyak dipelajari dalam kaitannya dengan kesehatan sel dan proses penuaan tubuh. Kini, studi yang diterbitkan dalam jurnal iScience pada 30 September 2026 menunjukkan potensi penggunaannya secara topikal untuk mengurangi kedalaman kerutan dan memengaruhi sejumlah proses biologis pada kulit.
Dari Metabolisme Tubuh ke Formulasi Skincare

Urolithin A dapat dihasilkan ketika bakteri tertentu di dalam usus mengolah ellagitannin dan asam ellagat, zat alami yang ditemukan dalam delima serta beberapa jenis kacang-kacangan. Namun, kemampuan tubuh menghasilkan senyawa ini berbeda-beda, bergantung pada komposisi bakteri usus setiap individu.
Untuk kebutuhan perawatan kulit, Urolithin A dapat diproduksi secara terpisah dan diformulasikan sebagai bahan aktif dalam krim. Daya tariknya terletak pada kemampuannya mendukung mitophagy, proses alami yang membantu sel membersihkan mitokondria yang rusak.
Mitokondria sendiri merupakan bagian sel yang menghasilkan energi untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk memelihara jaringan kulit. Ketika fungsinya menurun seiring bertambahnya usia, kemampuan sel dalam mempertahankan kondisinya juga dapat terpengaruh. Melalui mekanisme tersebut, Urolithin A mulai diteliti sebagai salah satu pendekatan dalam perawatan antiaging.
Hasil Uji Klinis
Dalam penelitian selama delapan minggu yang melibatkan 48 perempuan berusia 50–75 tahun, penggunaan krim dengan kandungan Urolithin A 1% menunjukkan pengurangan kedalaman kerutan di sekitar mata dibandingkan krim plasebo.
Analisis sampel kulit juga menemukan perubahan aktivitas gen yang berkaitan dengan struktur kolagen, perkembangan epidermis, serta respons peradangan. Sementara itu, pengujian terpisah terhadap paparan sinar ultraviolet B (UVB) menunjukkan bahwa area kulit yang mendapatkan Urolithin A 1% mengalami kemerahan lebih rendah dibandingkan area tanpa perawatan, dalam kondisi penelitian tersebut.
Hasil ini memberi gambaran bahwa manfaat Urolithin A mungkin tidak hanya berkaitan dengan tampilan kulit, tetapi juga proses biologis yang memengaruhi kondisinya.
Seberapa Menjanjikan untuk Antiaging?
Meski hasil awalnya menarik, efektivitas Urolithin A masih perlu diteliti lebih lanjut. Jumlah peserta yang terbatas, durasi pengujian yang singkat, serta penggunaan formulasi tertentu membuat temuan ini belum dapat digeneralisasi untuk seluruh produk skincare yang mengandung senyawa tersebut.
Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk memastikan keamanan dan manfaat penggunaan jangka panjang. Namun, temuan ini memperlihatkan bagaimana inovasi perawatan kulit mulai bergerak melampaui upaya menyamarkan tanda penuaan, menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang kesehatan sel sebagai bagian dari proses menjaga kualitas kulit.



