Science vs Soul

Ketika Stres Mulai Terlihat pada Kulit dan Rambut

Image 01 / 05.

Stres sering kali dianggap sebagai kondisi yang hanya memengaruhi suasana hati atau energi. Padahal, ketika berlangsung terus-menerus, respons stres dapat memberikan dampak yang lebih luas pada tubuh, termasuk pada kesehatan kulit dan rambut.

Dilansir dari NewBeauty yang membahas nervous system dysregulation, kondisi ketika sistem saraf kehilangan fleksibilitas untuk berpindah dari keadaan fight-or-flight ke rest-and-digest disebut dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Salah satu dampak yang paling mudah terlihat justru muncul pada kulit dan kulit kepala.

Saat Stres Mengganggu Skin Barrier

Menurut dokter kulit Kally Papantoniou, MD, stres kronis terutama dapat bermanifestasi melalui inflamasi dan melemahnya skin barrier. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat kulit menjadi lebih sensitif dan reaktif. Pada sebagian orang, stres juga dapat memicu acne flare atau memperburuk kondisi kulit yang sebelumnya sudah ada, seperti eczema dan rosacea.

Stres tidak selalu menjadi penyebab utama munculnya masalah kulit. Namun, ketika berlangsung terus-menerus, stres dapat memperburuk masalah yang sebelumnya sudah ada atau membuatnya lebih mudah kambuh. Kondisinya pun dapat terlihat dari wajah yang lebih kusam, sensitif, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Dengan kata lain, apa yang terjadi pada permukaan tubuh tidak selalu berkaitan dengan produk yang digunakan, tetapi juga dengan bagaimana tubuh merespons tekanan dalam jangka panjang.

Rambut Bisa Menunjukkan Dampaknya Beberapa Bulan Kemudian

Jika perubahan pada kulit terkadang dapat terlihat relatif cepat, dampak stres pada rambut justru dapat muncul dengan jeda waktu yang lebih panjang. Salah satu kondisi yang dibahas dalam artikel tersebut adalah telogen effluvium, yaitu kerontokan rambut yang berkaitan dengan stres.

Menurut trichologist William Gaunitz, kerontokan akibat stres umumnya dapat terlihat sekitar tiga bulan setelah pemicu awal dan biasanya terjadi secara menyeluruh di kulit kepala, bukan hanya pada satu area tertentu.

Karena jedanya cukup panjang, hubungan antara kerontokan dan stres sering kali tidak langsung disadari. Seseorang mungkin baru mengalami kerontokan beberapa bulan setelah melewati periode yang sangat melelahkan secara fisik maupun emosional, sehingga pemicunya terasa seperti tidak lagi berkaitan.

Stres juga dapat disertai sensasi seperti kulit kepala terasa kencang atau kesemutan. Gaunitz mengaitkannya dengan neurogenic inflammation pada kulit kepala. Dalam kondisi stres emosional yang berlangsung kronis, inflamasi tingkat rendah dan perubahan hormonal juga dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut serta memengaruhi scalp microbiome.

Mengelola Stres untuk Menjaga Kesehatan Kulit dan Rambut

Mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh, termasuk kulit dan rambut. Sistem saraf memiliki kemampuan untuk beradaptasi, sehingga perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten dapat membantu tubuh menghadapi stres dengan lebih baik.

Salah satu cara yang dibahas adalah breathwork, terutama pernapasan diafragma secara perlahan. Meditasi dan mindfulness juga dapat membantu tubuh menjadi lebih tenang. Di luar itu, tidur yang cukup, menjaga pola makan, dan kesehatan metabolik turut menjadi bagian penting dalam membantu tubuh mengelola stres.

Karena itu, ketika kulit mulai terlihat lebih kusam atau sensitif, breakout semakin sering muncul, atau rambut mengalami kerontokan, jangan hanya memperhatikan produk skincare dan haircare yang digunakan. Bisa jadi, perubahan tersebut muncul karena tubuh sedang ikut merasakan dampak dari stres yang dialami.

Tagsstres
The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.