Now Report

Sebuah Teori tentang Mengapa Semua Orang Kembali ke Lipstik Cokelat

Dari sudut-sudut kafe Jakarta hingga linimasa global, warna yang dulu identik dengan tahun sembilan puluhan ini diam-diam mengambil alih. Kami punya beberapa dugaan tentang penyebabnya.
Sebatang lipstik bernuansa hangat tergeletak di atas permukaan putih yang bersih
Image 01 / 05Photograph courtesy of Unsplash.

Perhatikan baik-baik wajah-wajah di sekitar Anda minggu ini — di antrean kopi, di rapat, di feed Anda. Ada satu warna yang muncul berulang dengan ketenangan yang nyaris konspiratif: cokelat di bibir. Bukan merah yang berani, bukan nude yang aman, melainkan nuansa cokelat hangat yang dulu identik dengan dekade sembilan puluhan dan kini, entah bagaimana, terasa seperti sekarang.

Tren tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu konteks yang tepat untuk kembali. Pertanyaannya bukan apakah lipstik cokelat sedang naik — itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah kenapa, dan kenapa sekarang. Kami punya beberapa teori.

Reaksi terhadap Era Serba Sempurna

Teori pertama berkaitan dengan kelelahan. Selama bertahun-tahun, estetika kecantikan didorong ke arah yang serba cerah, serba mulus, serba terisi. Lipstik cokelat membawa sesuatu yang berlawanan: kesan tenang, sedikit kusam dalam arti yang baik, warna yang tidak berusaha menarik perhatian. Di dunia yang lelah oleh filter, ada kelegaan dalam warna yang terlihat seperti dirinya sendiri.

Cokelat juga punya kualitas yang sulit ditiru warna lain — ia terlihat dewasa tanpa terlihat tua, santai tanpa terlihat malas. Ia adalah warna yang berkata, saya tidak sedang berusaha terlalu keras, dan justru karena itu ia terasa mahal.

Mengapa Ia Cocok untuk Kulit Kita

Ada alasan praktis yang sering luput: nuansa cokelat hangat kebetulan sangat ramah terhadap warna kulit Asia Tenggara. Undertone kuning-keemasan yang umum pada kulit kita justru dihidupkan oleh warna-warna bersuhu hangat. Banyak makeup artist lokal sudah lama tahu ini, tapi tren global baru saja menyusul apa yang sebenarnya selalu cocok untuk wajah-wajah di sini.

Itulah keindahan kecil dari momen ini: sebuah tren internasional yang, untuk sekali ini, benar-benar berpihak pada warna kulit kita alih-alih memaksanya menyesuaikan diri.

Warna yang paling abadi bukan yang paling mencolok, melainkan yang paling jujur terhadap wajah yang mengenakannya.

Apakah lipstik cokelat akan bertahan? Mungkin, mungkin juga tidak — siklus tren tidak pernah memberi jaminan. Tapi mungkin itu bukan pertanyaan yang tepat. Yang menarik bukan berapa lama ia bertahan, melainkan apa yang kepulangannya katakan tentang kita: bahwa di tengah dunia yang menuntut kita selalu cerah dan selalu sempurna, kita diam-diam merindukan warna yang membiarkan kita menjadi tenang.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.