Wellness

Mitos tentang Cortisol Belly yang Perlu Diketahui

Perut buncit kerap dikaitkan dengan hormon stres atau kortisol yang tinggi. Namun, benarkah stres menjadi penyebab utamanya? Sebelum mencoba berbagai cara untuk menurunkan kortisol, ada beberapa hal yang perlu dipahami.
Image 01 / 05.

Belakangan, istilah cortisol belly ramai dibicarakan di media sosial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan penumpukan lemak di perut yang dianggap terjadi akibat tingginya hormon kortisol. Berbagai tips untuk mengatasinya pun bermunculan, mulai dari mengubah pola makan hingga mengonsumsi suplemen tertentu.

Padahal, lemak perut tidak selalu berkaitan dengan kadar kortisol. Dilansir dari EatingWell, ada sejumlah anggapan tentang cortisol belly yang perlu diluruskan agar tidak salah memahami kondisi tubuh.

1. Perut Buncit Berarti Kortisol Tinggi

Tidak sedikit orang yang menganggap lemak di area perut sebagai tanda bahwa tubuh sedang mengalami stres berlebihan. Padahal, cortisol belly bukanlah diagnosis medis, dan bentuk perut saja tidak bisa digunakan untuk mengetahui kadar kortisol seseorang.

Menurut Gillian Goddard, MD, dokter spesialis endokrinologi mengatakan, kadar kortisol yang sangat tinggi dapat menyebabkan penumpukan lemak di perut, misalnya pada orang dengan sindrom cushing. Namun, kondisi ini tergolong langka.

Pada kebanyakan orang, penumpukan lemak perut dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk faktor genetik, usia, perubahan hormon, pola makan, dan aktivitas fisik. Saat memasuki menopause, misalnya, perubahan hormon dapat membuat lemak lebih banyak terkumpul di sekitar pinggang.

2. Stres Menyebabkan Perubahan Berat Badan

Kortisol memang dikenal sebagai hormon yang membantu tubuh merespons stres. Ketika menghadapi situasi yang menegangkan, kadar hormon ini dapat meningkat untuk sementara. Namun, respons tersebut merupakan bagian normal dari cara tubuh bekerja.

Serena Pratt, M.S., RDN, ahli gizi yang dikutip dalam artikel EatingWell, menjelaskan bahwa kortisol kemungkinan bukan penyebab utama penumpukan lemak perut pada kebanyakan orang. Stres memang bisa memengaruhi berat badan, tetapi sering kali dialami karena kebiasaan yang ikut berubah, seperti tidur yang terganggu atau pola makan yang tidak teratur.

Jadi, mengalami hari-hari yang melelahkan atau penuh tekanan tidak berarti kortisol akan terus tinggi dan membuat lemak menumpuk di perut. Hubungan antara stres dan perubahan berat badan jauh lebih kompleks daripada yang sering digambarkan di media sosial.

3. Menurunkan Kortisol Pasti Membuat Perut Mengecil

Berbagai produk kini dipasarkan dengan klaim dapat menurunkan kortisol sekaligus membantu mengurangi lemak perut. Namun, menurunkan kadar hormon ini tidak otomatis membuat berat badan turun.

Dalam artikel EatingWell, produk cortisol detox, suplemen pendukung adrenal, dan diet khusus untuk menurunkan kortisol belum memiliki dukungan bukti ilmiah berkualitas tinggi yang memadai.

Suplemen ashwagandha, misalnya, dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan penurunan kadar kortisol. Meski begitu, penurunan tersebut tidak selalu diikuti perubahan signifikan pada lemak perut. Karena itu, klaim bahwa satu suplemen bisa mengatasi cortisol belly perlu disikapi dengan hati-hati.

Alih-alih mencari produk yang menjanjikan hasil instan, lebih baik perbaiki pola hidup mulai dari tidur cukup, berolahraga secara teratur, makan seimbang, dan meluangkan waktu untuk relaksasi lebih layak dijadikan prioritas.

4. Olahraga Intens Bisa Menyebabkan Cortisol Belly

Ada pula anggapan bahwa olahraga dengan intensitas tinggi sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan kortisol. Faktanya, kadar kortisol memang bisa naik selama berolahraga, terutama ketika tubuh melakukan aktivitas fisik yang berat.

Namun, kenaikan ini bersifat sementara dan merupakan respons normal terhadap aktivitas fisik. Jessica McAllister, RDN, seorang ahli gizi, menekankan bahwa respons kortisol yang normal terhadap stres berbeda dari kondisi medis yang menyebabkan kadar hormon ini terus-menerus tinggi.

Dengan demikian, tidak perlu langsung menghindari latihan intens hanya karena kortisol meningkat saat berolahraga. Jenis dan intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh, kemampuan, serta kebutuhan masing-masing.

Cortisol belly bukan penjelasan tunggal untuk penumpukan lemak di perut. Jika ingin menjaga berat badan dan kesehatan secara keseluruhan, fokuslah pada kebiasaan yang bisa dilakukan secara konsisten, bukan pada produk yang menjanjikan penurunan kortisol secara instan. Jika ada kekhawatiran mengenai kadar kortisol, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diperiksa dengan tepat.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.