Wellness

Mitos Alergi Makanan yang Perlu Diketahui Faktanya

Keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu tidak selalu menandakan alergi. Memahami perbedaan alergi dan intoleransi makanan dapat membantu kita mengenali reaksi tubuh dengan lebih tepat.
Image 01 / 05.

Makanan yang sama bisa menimbulkan reaksi berbeda pada setiap orang. Ada yang bisa menikmatinya tanpa masalah, sementara orang lain justru mengalami keluhan setelah mengonsumsinya. Situasi ini terkadang membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya memiliki alergi makanan.

Padahal, tidak semua reaksi terhadap makanan disebabkan oleh alergi. Sebagian keluhan bisa berkaitan dengan intoleransi makanan, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna atau memproses zat tertentu. Alergi melibatkan sistem kekebalan tubuh dan dalam kondisi tertentu dapat mengancam nyawa, sedangkan intoleransi umumnya berkaitan dengan gangguan pencernaan.

Dilansir dari EatingWell, ada empat mitos tentang alergi makanan yang perlu diluruskan agar kita tidak salah mengenali gejalanya maupun menentukan makanan yang perlu dihindari.

1. Tes Sensitivitas Makanan Bisa Memastikan Alergi

Tes sensitivitas makanan kerap digunakan untuk mencari penyebab keluhan setelah makan. Namun, tes yang mengukur antibodi IgG dalam darah tidak dapat memastikan alergi makanan.

Antibodi IgG merupakan protein yang diproduksi sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap paparan zat tertentu, termasuk makanan. Menurut Hennis Tung, M.S., RD, seorang ahli gizi mengatakan, keberadaan antibodi IgG terhadap suatu makanan umumnya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar makanan tersebut, bukan berarti makanan itu memicu alergi. Karena itu, hasil tes IgG tidak tepat dijadikan dasar untuk menentukan makanan yang harus dihindari.

Untuk mendiagnosis alergi makanan, dokter dapat menyarankan tes tusuk kulit (skin prick test) atau tes darah untuk mengukur antibodi IgE, yang berperan dalam banyak reaksi alergi. Jika diperlukan, dokter juga dapat melakukan tes provokasi makanan dengan memberikan makanan yang dicurigai sebagai pemicu di bawah pengawasan medis.

2. Bayi Perlu Menghindari Makanan Pemicu Alergi

Orang tua yang memiliki riwayat alergi mungkin khawatir anaknya mengalami kondisi serupa. Namun, menghindari semua makanan pemicu alergi sejak bayi tidak selalu menjadi cara terbaik untuk mencegahnya.

Brittany Brown, RD, IBCLC, CDE, ahli gizi dan konsultan laktasi bersertifikat, menjelaskan bahwa pengenalan makanan pemicu alergi sejak dini dapat membantu menurunkan risiko alergi pada sebagian bayi. Salah satu contohnya terlihat dalam penelitian LEAP, yang menemukan bahwa pengenalan kacang tanah sejak dini pada bayi berisiko tinggi dapat mengurangi kemungkinan mereka mengalami alergi terhadap kacang tanah.

Meski begitu, makanan tetap perlu diperkenalkan sesuai kesiapan bayi. Bayi dengan eksim berat atau faktor risiko alergi tertentu sebaiknya mendapat arahan dokter anak mengenai waktu dan cara pengenalan makanan. Orang tua tidak perlu menunda semua makanan pemicu alergi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

3. Alergi Makanan Hanya Bisa Muncul Sejak Kecil

Alergi makanan memang dapat dialami sejak masa kanak-kanak, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya untuk pertama kali. Seseorang yang selama bertahun-tahun bisa mengonsumsi makanan tertentu tanpa masalah tetap berpeluang mengalami alergi di kemudian hari.

Lebih lanjut Hennis Tung, M.S., RD menjelaskan bahwa alergi makanan dapat berkembang pada berbagai usia. Beberapa pemicu yang umum ditemukan pada alergi yang muncul saat dewasa antara lain kerang-kerangan, ikan, kacang pohon, dan kacang tanah.

Karena itu, keluhan baru setelah mengonsumsi makanan tertentu sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Biduran, pembengkakan, atau kesulitan bernapas yang muncul setelah makan perlu diwaspadai. Pemeriksaan dokter dapat membantu memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan alergi atau kondisi lain.

4. Reaksi Alergi Akan Selalu Lebih Parah Setiap Kali Terjadi

Tingkat keparahan reaksi alergi tidak selalu meningkat setiap kali seseorang terpapar makanan pemicunya. Seseorang mungkin hanya mengalami biduran pada satu kesempatan, tetapi mengalami reaksi yang jauh lebih serius pada kesempatan lain.

Kara Wada, MD, FAAAAI, FACAAI, dokter spesialis alergi dan imunologi yang dikutip EatingWell, menjelaskan bahwa sejumlah faktor dapat memengaruhi beratnya reaksi alergi. Faktor tersebut antara lain olahraga, konsumsi alkohol, penggunaan obat antinyeri tertentu, kurang tidur, dan infeksi.

Artinya, reaksi ringan sebelumnya tidak menjamin reaksi berikutnya juga ringan. Alergi makanan dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang berpotensi mengancam nyawa. Jika muncul kesulitan bernapas atau pembengkakan pada lidah dan tenggorokan setelah terpapar makanan pemicu, segera cari pertolongan medis darurat.

Mengenali Alergi Makanan dengan Tepat

Mengenali alergi makanan bukan hanya soal mengetahui makanan yang perlu dihindari, tetapi juga memastikan penyebab reaksi tubuh. Mengandalkan tes yang tidak sesuai atau menyimpulkan sendiri berdasarkan gejala bisa membuat seseorang menghindari makanan yang sebenarnya tidak perlu dipantang.

Jika mencurigai adanya alergi makanan, konsultasikan keluhan kepada dokter agar penyebabnya dapat diperiksa dan penanganannya sesuai dengan kondisi masing-masing.

The Bespoke Letter

Elevating Everyday Living

A premium, timeless media platform grounded in clinical expertise and woven with high-end lifestyle inspiration.

By subscribing you agree to receive editorial updates from Bespoke Beauty. Unsubscribe anytime.